BUNGA

September 11, 2008

Bunga adalah cara-Mu tersenyum,

Matahari tidak lain dari pelukan hangat,

Bintang hanyalah cara-Mu menjaga kami sepanjang malam,

Dan sahabat, ia adalah cara-Mu hadir nyata dalam kehidupan.

 

(Gede Prama, Jalan-Jalan Penuh Keindahan)

KOIN PENYOK

Februari 22, 2013

KOIN PENYOK. Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar. Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar utk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yg dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar utk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak utk membawa pulang lemari itu. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yg indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya. Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”. Demikianlah Tuhan mengatur hak-hak kita…. Bila kita sadar kita tak pernah benar2 memiliki apapun, kenapa saat kehilangan kita harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Bersyukurlah…

Februari 22, 2013

Mendidik untuk Kuat Bersaing

April 30, 2011

Mendidik untuk Kuat Bersaing Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Masyarakat Amerika, khususnya kaum pendidik dan para ibu, digegerkan buku Battle Hymn of the Tiger Mother yang baru terbit. Buku yang ditulis Amy Chua, seorang warga AS keturunan China dan menjadi professor hukum di Universitas Yale, menuturkan pendapat penulis tentang bagaimana seorang ibu harus mendidik anaknya. Pendidikan itu harus keras, kuat menanamkan disiplin, dan tanpa ampun dalam menumbuhkan kemampuan. Ia gambarkan bagaimana ia mengharuskan putra-putrinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV dan banyak hal yang biasa diizinkan oleh Ibu Amerika. Anaknya harus mendapatkan nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah. Buku itu mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua sebagai ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Akan tetapi di pihak lain timbul rasa khawatir bahwa cara mendidik versi China (the Chinese way) ini dan mestinya dilakukan secara luas di China akan menjadikan China unggul atas AS. Sudah terbukti bahwa kemampuan anak AS dalam berbagai pertandingan internasional tidak hanya kalah dari China, tetapi juga dari bangsa lain. Hasil tes terakhir dari Program for International Student Assessment menunjukkan bahwa murid AS di sekolah dasar dan menengah hanya mencapai ranking ke-17 untuk membaca, ke-23 untuk sains, ke-31 untuk matematika dan secara keseluruhan ranking ke-17. Sebaliknya, prestasi China kini menonjol, seperti tahun 2010 menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, jumlah periset meningkat 111 persen dibanding tahun 1999 (AS hanya 8 persen), peningkatan murid SMA dari 48 persen anak sekolah tahun 1994 ke 76 persen sekarang dan lainnya. Orang AS berpikir, sekarang AS masih nomor satu dunia, tetapi untuk berapa lama lagi? Ketika diwawancara, Amy Chua menolak disebut monster yang tanpa kasih sayang kepada anak-anaknya. Ia cuma tidak mau menjadikan anak-anaknya orang-orang lemah yang berkembang menjadi pecundang dalam kehidupan yang penuh persaingan. Ia dulu malah mengalami pendidikan yang lebih keras dari ibu-bapaknya. Suami Amy Chua, Jed Rubenfeld, juga professor hukum di Yale, semula mau mengurangi beban anak-anaknya. Akan tetapi, akhirnya ia harus menyetujui sikap istrinya. Lingkungan keluarga Buat kita di Indonesia ini, semua perlu menjadi petunjuk dalam mendidik bangsa kita menghadapi dunia internasional yang penuh persaingan, di mana hanya yang mampu dan kuat yang dapat bertahan. Sejak lama kita katakan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga penting sekali untuk pembentukan karakter bangsa, termasuk daya tahan orang menghadapi berbagai perkembangan, adanya dorongan untuk selalu menghasilkan yang terbaik, bergiat dalam kelompok, dan hal-hal lain lagi. Hingga kini pendidikan karakter di Indonesia masih amat banyak kekurangannya. Itu yang mengakibatkan sifat manja-mental (mentally spoilt) di banyak kalangan masyarakat. Itu pula sebab utama mengapa kita sukar menemukan pemimpin yang bermutu, yang tidak hanya pandai berteori, tetapi juga mampu mengimplementasikan teori itu. Dari sebelum China muncul sebagai kekuatan, penulis mengatakan bahwa kita harus sanggup bersaing dengan Jepang yang waktu itu menonjol daya saingnya. Sekarang tidak cukup kita mampu bersaing dengan Jepang, tetapi juga dengan China yang makin kuat. Bahkan dengan Korea yang sekalipun sebagai bangsa relatif kecil, tetapi kuat sekali daya saingnya. Amat penting kepemimpinan nasional di Indonesia memotivasi pendidikan di lingkungan keluarga untuk membentuk karakter bangsa yang jauh lebih kuat. Kita bangsa dengan banyak bakat yang tinggi nilainya. Akan tetapi, telah terbukti dalam kehidupan, umat manusia bahwa nurture is much more important than culture atau mengasuh, mendidik dan membina jauh lebih penting daripada bakat. Hendaknya pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta berbagai organisasi kewanitaan mengambil langkah konkret yang menggiatkan pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Meskipun pendidikan sekolah juga wajib memberikan pendidikan karakter, kegiatan itu perlu ditingkatkan volume dan mutunya melalui pendidikan dalam keluarga. Semoga dengan jalan itu bangsa Indonesia berhenti bermental baja, berganti menjadi bangsa kuat lahir-batin dan senantiasa berusaha melakukan dan mencapai yang terbaik dalam kehidupan. (KOMPAS, Jum’at 18 Februari 2011).

Bruce Lee’s Spirit

April 22, 2011

Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do. Tahu saja tidak cukup, kita harus mengaplikasikan. Ingin saja tidak cukup, kita harus melakukan.

L.O.V.E

Juni 27, 2009

Love is not finding the right person, but creating a right relationship..

It’s not about how much love you have in the beginning, but how much love you build till the end..

Segmentasi Posisi Keuangan Pribadi

Desember 31, 2008

 

bruce20lee2Segmentasi Posisi Keuangan Pribadi

Oleh: Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan.

Anda tentu sering mendengar berbagai lembaga bisnis menggunakan istilah segmentasi. Mulai dari segmentasi pasar berdasarkan demografi, berdasarkan geografi, dan atau pendekatan lain.

Inti dari semua itu adalah agar lembaga bisnis bisa lebih mudah memilah-milah target pasar. Misalnya, segmen orang dewasa dibedakan dari segmen remaja. Atau pasar di daerah Kalimantan tentu tidak sama perilakunya dengan pasar di Sumatera dan sebagainya.

Lantas, apa hubungan segmentasi bisnis itu dengan keuangan pribadi? Hubungan langsung tidak ada, tetapi dalam bisnis jika salah menyegmentasikan pasar dan produk, maka kerap hanya menghasilkan kegagalan.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada segmentasi keuangan pribadi. Apa maksudnya? Begini. Kita semua tentu memahami masyarakat hidup dengan berbagai gaya hidup. Ada istilah jet set society, ada pula kalangan yang hidupnya penuh hura-hura. Tragisnya, meski kesukaan sama, belum tentu semua penggemar pola hidup semacam itu memiliki kondisi keuangan yang sama.

Tidak heran bila kemudian kita mendengar istilah “lebih besar pasak daripada tiang”, atau malah hidupnya selalu terjerat utang. Dengan kata lain, hidup dalam kenikmatan semu sesaat tatkala berada di lingkungan tersebut, tetapi sehari-harinya penuh dengan masalah keuangan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk lebih dahulu memahami sebenarnya Anda berada di segmen keuangan pribadi yang mana agar tidak terjerat dalam berbagai masalah keuangan yang Anda buat sendiri.

Untuk melihat segmentasi keuangan ini sebenarnya relatif mudah. Saat ini ada beberapa metode dalam mengklasifikasikan kelompok masyarakat. Mungkin Anda pernah mendengar istilah kelompok A, B, C di masyarakat. Atau yang lebih mudah, terkadang ada survei yang mengajukan pertanyaan berapa pendapatan Anda. Misalnya, apakah pendapatan Anda antara Rp 1 juta-Rp 5 juta per bulan, Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan, Rp 10-Rp 20 juta per bulan, atau di atas Rp 20 juta per bulan.

Jika Pendapatan anda di atas Rp 20 juta per bulan, maka Anda tergolong kelompok A. Demikian seterusnya. Lantas, apa dampaknya? Jika Anda mengajukan aplikasi kartu kredit, dengan pendapatan di atas Rp 20 juta per bulan, maka Anda berpeluang memperoleh kartu emas. Atau malah kartu platinum jika pendapatan Anda jauh di atas Rp 20 juta per bulan. Nah, dengan pengelompokan seperti itu, otomatis Anda bisa mendapatkan indikasi Anda berada di segmen yang mana di kalangan masyarakat.

Lantas apa korelasinya? Sederhana sekali. Jika pendapatan Anda di bawah Rp 5 juta per bulan tentu kurang pas jika ikut serta dalam gaya hidup yang pendapatannya di atas Rp 20 juta per bulan. Tentu bukan berarti Anda tidak boleh bergaul dengan mereka, tetapi dalam hal ini penekannya adalah pada perilaku konsumsi Anda.

Dengan kata lain, jika Anda berperilaku konsumsi yang sama dengan kalangan yang berpendapatan di atas Rp 20 juta per bulan, maka yang akan menuai masalah adalah Anda sendiri. Itu intinya.

 

Bukan Lebih Miskin

 

Kendati demikian, bukan berarti Anda lebih “miskin” ketimbang mereka yang berpendapatan di atas Rp 20 juta per bulan. Dalam definisi keuangan, kemapanan seseorang sebenarnya tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan, tetapi dilihat secara persentase berapa besar selisih positif antara pendapatan dan pengeluaran.

Jadi sepanjang Anda tidak mengalami masalah dengan kondisi “kekurangan uang”, maka sebenarnya Anda tergolong mapan. Dengan kata lain, kendati mobil Anda bukan Jaguar atau Mercedez Benz keluaran terbaru dan rumah Anda tidak seluas lapangan sepak bola, tetapi jika Anda tidak pernah stres karena utang, maka Anda berada dalam golongan yang mapan secara keuangan.

Oleh karena itu, terlepas Anda berada di segmen mana dalam konteks penghasilan, sebenarnya bukan berarti yang pendapatannya di atas Rp 20 juta per bulan otomatis lebih mapan daripada orang-orang yang pendapatannya di bawah Rp 5 juta per bulan.

Contoh konkretnya, jika kalangan berpendapatan Rp 20 juta per bulan membelanjakan uang sebesar Rp 18 juta per bulan, berarti konsumsinya mencapai 90 persen dari pendapatan. Di sisi lain, kalangan yang berpendapatan Rp 5 juta per bulan mungkin hanya menghabiskan Rp 3 juta per bulan untuk konsumsi atau sebesar 60 persen saja. Berarti yang pendapatannya Rp 5 juta per bulan malah lebih mapan meskipun bersifat relatif.

Lantas, apa langkah selanjutnya yang mesti dilakukan setelah Anda mengetahui segmentasi keuangan Anda dan bahkan tingkat “kemapanan” Anda dilihat dari perbandingan pendapatan vs pengeluaran secara persentase? Apakah persoalan sudah selesai? Jelas tidak.

Segmentasi keuangan baru merupakan dasar untuk merancang perencanaan keuangan yang lebih baik guna mencapai tujuan keuangan Anda. Seperti contoh di atas, umpamakan pendapatan Anda di bawah Rp 5 juta per bulan dan jika dilihat secara persentase pengeluaran dibanding pendapatan kondisi keuangan Anda cukup baik. Apakah Anda cukup puas dengan kondisi itu?

Tidak ada salahnya Anda berupaya meningkatkan penghasilan Anda. Salah satu caranya dengan investasi.

Lalu, investasi apa yang cocok untuk orang-orang dengan pendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan? Inilah pertanyaan yang penting untuk dikorelasikan dengan paparan di atas menyangkut gaya hidup.

Boleh jadi kalangan berpendapatan diatas Rp 20 juta per bulan senang main saham. Sebaiknya Anda jangan ikut-ikutan, sebab karakter setiap orang berbeda-beda. Dengan demikian, Anda mesti mencari jenis investasi yang cocok dengan karakter Anda dan kondisi keuangan Anda.

Yang paling masuk akal adalah investasi yang risikonya lebih rendah dibandingkan saham, misalnya reksa dana. Selain relatif berisiko lebih rendah, investasinya juga bisa dilakukan dalam jumlah tidak terlalu besar. Selamat mencoba.

 

Melukis Yang Manis

Oktober 18, 2008

Melukis Yang Manis

 

Di pinggir danau duduk seorang pelukis

Melukis, melukis dan melukis

Sandra Dewi

Sandra Dewi

Ketika ditanya apa yang dilukis

 

 

 

 

Ia menyebut seorang gadis manis

 

Berambut selebat hutan tua

Tersenyum manis seperti bunga kamboja

Tatapannya menyerupai bulan purnama

Kelembutannya meniru danau tua

 

Ketika ditanya siapa namanya

Ia hanya diam percuma

Hatinya menyebut nama yang tidak bernama

 

(Gede Prama, “Jalan-Jalan Penuh Keindahan)

Santo Agustinus

Mei 29, 2008

Santo Agustinus

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.(Ibrani 13:5)

   
 
 

Berontak tetapi Dicengkeram Tuhan

Pernahkah kamu merasa telah melakukan sesuatu yang jahat sehingga kamu berpikir bahwa Tuhan tidak mau mengampunimu? Baiklah, kalau saja kamu tahu kehidupan St. Agustinus kamu akan menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh kamu berontak dan menyimpang dari Tuhan, Ia pasti akan membawamu kembali.

Agustinus dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya ialah St. Monika, seorang Kristen yang saleh. St. Monika mendidik ketiga putera-puterinya dalam iman Kristen. Namun demikian, menginjak dewasa Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Pernah suatu ketika ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok “7 Penantang Tagaste” mencuri buah-buah pir yang siap dipanen milik Pak Tallus, seorang petani miskin, untuk dilemparkan kepada babi-babi. Pada umur 29 tahun Agustinus dan Alypius, sahabatnya, pergi ke Italia. Agustinus menjadi mahaguru terkenal di Milan. Sementara itu, hatinya merasa gelisah. Sama seperti kebanyakan dari kita di jaman sekarang, ia mencari-cari sesuatu dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Sembilan tahun lamanya Agustinus menganut aliran Manikisme, yaitu bidaah yang menolak Allah dan mengutamakan rasionalisme. Tetapi tanpa kehadiran Tuhan dalam hidupnya, jiwanya itu tetap kosong. Semua buku-buku ilmu pengetahuan telah dibacanya, tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.

Sejak awal tak bosan-bosannya ibunya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci di mana dapat ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada dalam ilmu pengetahuan. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikit pun. Pada usia 31 tahun Agustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat doa-doa ibunya serta berkat ajaran St. Ambrosius, Uskup kota Milan. Namun demikian ia belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap hidupnya. Suatu hari, ia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat setelah membaca riwayat hidup St. Antonius Pertapa. Agustinus merasa malu. “Apa ini yang kita lakukan?” teriaknya kepada Alypius. “Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!” Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?” Sekonyong-konyong ia mendengar seorang anak menyanyi, “Ambillah dan bacalah!” Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat, “Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:13-14).

Ini dia! Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.
Pada tanggal 24 April 387 Agustinus dipermandikan oleh Uskup Ambrosius. Ia memutuskan untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan dengan beberapa teman dan saudara hidup bersama dalam doa dan meditasi. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Agustinus tiba kembali di Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin papa. Ia sendiri mendirikan sebuah komunitas religius. Atas desakan Uskup Valerius dan umat, maka Agustinus bersedia menjadi imam. Empat tahun kemudian Agutinus diangkat menjadi Uskup kota Hippo.

Semasa hidupnya Agustinus adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Banyak orang tak percaya kembali ke gereja Katolik sementara orang-orang Katolik semakin diperteguh imannya. Agustinus menulis surat-surat, khotbah-khotbah serta buku-buku dan mendirikan biara di Hippo untuk mendidik biarawan-biarawan agar dapat mewartakan injil ke daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri. Gereja Katolik di Afrika mulai tumbuh dan berkembang pesat. Di dinding kamarnya, terdapat kalimat berikut yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar: “Di sini kami tidak membicarakan yang buruk tentang siapa pun” .”Terlambat aku mencintai-Mu, Tuhan,” serunya kepada Tuhan suatu ketika. Agustinus menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Tuhan dan membawa orang-orang lain untuk juga mencintai-Nya.

Agustinus wafat pada tanggal 18 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun. Makamnya terletak di Basilik Santo Petrus. Kumpulan surat, khotbah serta tulisan-tulisannya adalah warisan Gereja yang amat berharga. Di antara ratusan buku karangannya, yang paling terkenal ialah “Pengakuan-Pengakuan” (di Indonesia diterbitkan bersama oleh Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia) dan “Negara Tuhan”. Santo Agustinus dikenang sebagai Uskup dan Pujangga Gereja serta dijadikan Santo pelindung para seminaris (calon imam). Pestanya dirayakan setiap tanggal 28 Agustus.

Jadi tidak peduli berapa jauh kamu menyimpang dari Tuhan, Ia selalu siap untuk membawamu kembali. Sama seperti Agustinus, seorang kafir yang dipanggil menjadi seorang Uskup, kamu pun juga dapat bertumbuh dalam kasih dan kuasa Tuhan.
Iman sejati sungguh sangat indah.

4E+1P

April 22, 2008

DICARI: TUKANG KEBUN (Pemimpin)

 

Jack Welch, mantan CEO legendaris GE, punya definisi sederhana tentang pemimpin.  Menurut salah satu Century’s Best CEO yang langganan meraih penghargaan sebagai CEO terbaik dari berbagai media bisnis internasional ini, pemimpin adalah seorang tukang kebun.  Tugasnya: membawa pupuk di tangan kanan, dan air di tangan kiri.  Ia memberi pupuk dan menyirami tanaman agar subur, serta menyiangi rumput dan gulma yang bisa menganggu pertumbuhan bibit unggul yang ditanam di ladangnya.

Secara berkala, ia juga mengecek pertumbuhan tanamannya.  Jika pucuk muda tak kunjung trubus dan tanaman tetap kuntet meski cukup diberi pupuk dan air, ia perlu menggantinya dengan bibit lain sehingga ladangnya bisa menghasilkan dengan baik.  Dengan rendah hati, Jack mengaku tugasnya sangat sederhana.  “Karena saya bukan orang pintar, tugas saya adalah mencari dan memilih orang-orang yang pintar dan professional,” katanya.

 

4E + 1P

 

Apa itu 4E+1P?

4E+1P merupakan konsep perilaku kepemimpinan yang diadopsi dari perusahaan General Electric (GE).  GE merupakan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alva Edison (penemu bola lampu).  Pada masa pimpinan sang CEO, Jack Welch, GE menjadi perusahaan yang paling berharga di dunia.

 

Yang membuat General Electric berbeda adalah satu budaya yang memanfaatkan perbedaan sebagai satu kesempatan belajar yang tidak terbatas, satu rumah ide yang makanan dan kelezatannya tak ada taranya di dunia bisnis.  Inti dari budaya belajar adalah pemahaman bahwa kemampuan organisasi untuk belajar dan segera menerapkan apa yang dipelajari ke dalam tindakan, merupakan daya saing bisnis. (Jack Welch)

 

Energy:

  1. Kepemimpinan yang memberi teladan
  2. Penekanan pada pentingnya kepuasan pelanggan
  3. Menggunakan bahasa lisan, tulisan dan tindakan nyata untuk mengilhami orang lain agar berprestasi
  4. Menginisiatifkan suatu perubahan
  5. Menentang status quo
  6. Membagikan informasi ke seluruh bagian
  7. Terbuka dan ramah terhadap orang lain

Energize:

  1. Mendorong orang lain untuk memberikan kontribusi yang lebih
  2. Memberikan wewenang kepada anggota tim untuk memilih cara terbaik dalam melakukan pekerjaan mereka sendiri
  3. Menghargai kontribusi tim
  4. Mendengar secara efektif dan ajukan pertanyaan untuk memahami pikiran orang lain
  5. Mendorong perdebatan di antara anggota tim
  6. Memberikan arahan yang jelas pada tim
  7. Menolong anggota tim belajar dari kesalahan

Edge:

  1. Menunjukkan standar perilaku yang tinggi dalam semua transaksi bisnis
  2. Bertanggung jawab atas kesalahan sendiri dan menjadikannya sebagai suatu pelajaran praktis
  3. Menunjukkan masalah kinerja berdasarkan laporan / anggota tim
  4. Dapat membuat keputusan yang tepat saat minim informasi
  5. Memutuskan secara efektif dengan alternatif yang kompleks, membingungkan dan bertentangan
  6. Dapat dengan cepat menyaring informasi yang relevan dari informasi yang tidak relevan
  7. Dapat mengungkapkan pendapat sendiri dengan jelas
  8. Menghadapi konflik secara konstruktif

Execute:

  1. Membuat & memenuhi komitmen yang agresif
  2. Memilih anggota-anggota tim pelaksana yang memiliki bakat dan talenta yang tinggi
  3. Mengalokasikan sumber daya (orang, material, waktu & anggaran) dengan tepat
  4. Mengubah rencana jika situasi membutuhkannya
  5. Dengan senang hati menerima umpan balik dari kinerja sendiri
  6. Memberikan umpan balik untuk meningkatkan kinerja anggota tim
  7. Melatih secara efektif untuk meningkatkan kinerja anggota tim
  8. Mendorong peningkatan kualitas dengan mengimplementasikan cara baru yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu

Passion:

  1. Memiliki keinginan kuat untuk berhasil
  2. Memandang perubahan sebagai suatu kesempatan dan keberhasilan pelaksanaan rencana tindakan
  3. Dapat bertahan dan belajar pada masa-masa sulit
  4. Membimbing tim dalam mengarahkan bisnis pada kondisi krisis
  5. Selalu mendorong orang lain untuk memiliki proses yang cepat, sederhana dan efektif

 

Yang kita cari untuk GE saat ini adalah pemimpin di setiap level yang dapat membangkitkan energi karyawan, menciptakan antusiasme karyawan, bukan pemimpin yang melemahkan semangat karyawan, dan mengendalikan karyawan.  Orang yang kita perlukan dalam perusahaan ini adalah mereka yang tidak mau menghabiskan waktu untuk birokrasi; atau tidak menggerutu terhadap penguasa yang diktator selama bertahun-tahun; orang yang sebelum mendapatkan kesempatan untuk mengambil keputusan,  mencoba sesuatu yang baru dan mendapatkan kepuasan batin dan kepuasan dalam hal keuangan. (Jack Welch) 


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.