Hidup itu Singkat

By agustinuscp

Apa jadinya jika salah seorang peletak dasar teologi sebuah agama menjadi seorang tergugat? Santo Agustinus dalam agama Kristen adalah seperti Alghazali bagi kaum Muslim. Ada satu kesamaan dalam diri masing-masing, yakni sama-sama membuat risalah mengenai perjalanan dirinya, pencarian batinnya, dalam upaya meraih apa yang disebut tujuan final bagi para pemeluk agama. Agustinus menggubah Confessiones (Pengakuan) dan Alghazali mengarang Munqidz Minadholal (Penyelamat dari Kesesatan).

Coba bayangkan, jika seorang sekaliber St Agustinus, yang dalam pengakuan jujur dirinya termuat dalam Confessiones dengan narasi teologis yang indah, tiba-tiba terkuakkan sepenggal kisah yang selama ini tak pernah tercatat dalam sejarah. Pertama orang akan bertanya tentang kebenaran dari penggalan cerita tadi. Reaksi kemudian, tentu saja setiap orang akan mempunyai sudut pandang tersendiri tentang kisah tersebut, mempunyai penafsiran masing-masing.

Adalah Floria, si penggugat itu, yang mengaku sebagai bekas kekasih sang Santo, dan menggubah surat-surat yang diperuntukkan bagi mantan kekasihnya. Boleh dikatakan ia membuat pengakuan balik atau gugatan balik atas Pengakuan St Agustinus. Ia ingin didengarkan oleh gereja, seperti halnya Pengakuan St Agustinus yang juga dihargai oleh umat Kristiani. Jostein Gaarder, si penemu Codex Floriae, surat-surat mantan kekasih St Agustinus ini, adalah seorang pengarang yang tak asing bagi khalayak pembaca sastra dan filsafat. Dunia Sophie (Sophie’s World) merupakan salah satu karya besarnya untuk genre sastra-filsafat, yang diperuntukkan bagi para pemula, terutama remaja.

Di pertengahan musim semi tahun 1995, demikian Gaarder menceritakan asal mula penemuan naskah tua ini, saat pameran buku di Buones Aires, ia mengunjungi pasar loak di San Telmo. Di sebuah toko yang menjual buku-buku dan naskah kuno, ia menemukan gulungan surat berkertas merah yang bertuliskan aksara latin: Floria Aemelia Aurelio Augustino Episcopo Hipponensi Salutem. Salam dari Floria Aemelia kepada Aurelius Agustinus, Uskup Hippo. Dari benak Gaarder lantas berdatangan aneka pertanyaan yang membuatnya makin penasaran, apakah yang dimaksud penulis surat adalah Santo Agustinus, Sang Bapak Gereja yang hidup di sekitar abad ke-4 M. Rasa penasarannya tak bisa ditekan dan membuatnya harus bertaruh: ia rela mengeluarkan hampir 12.000 dollar AS demi mendapatkan naskah tua itu.

Setelah menelitinya, Jostein Gaarder berkeyakinan bahwa naskah ini memang asli. Mungkin merupakan salinan dari naskah yang lebih tua dan salinan yang dipegangnya dipastikan berasal dari abad ke-16. Ia kemudian mulai mencoba menerjemahkan surat-surat tersebut. Rasa kagum atas pilihan kata yang indah dari rangkaian tulisan tangan Codex Floriae, dicampur argumentasi teologis dan tuntutan dari seorang perempuan, semakin membuat Gaarder tak bisa menahan diri untuk berbagi dengan khalayak pembaca. Setahun kemudian, Codex Floriae diterbitkan dalam bahasa Norwegia, walaupun untuk judul, Gaarder tetap mengambil kalimat dalam bahasa Latin, yang sering dituliskan berulang kali oleh Floria: Vita Brevis, hidup itu singkat.

# # #

Mungkin ada benarnya ungkapan seorang sastrawan Romania, EM Cioran: ”Aku lebih menyukai surat-surat Nietzsche daripada membaca karya filsafatnya, ada kejujuran terdapat di sana, daripada buku filsafat yang canggih”. Memang dalam penulisan yang serius, penalaran kita yang sistematislah yang lebih berperan. Atau bisa jadi kita memilih kata yang canggih dengan banyak kelokan dan dimaksudkan sebagai daya pikat yang membungkus argumentasi – yang bisa jadi sebenarnya sederhana – dalam sebuah tulisan serius seperti halnya filsafat. Berbeda dengan tulisan filosofis, tulisan dalam bentuk surat menyurat lebih menuturkan perasaan yang berkecamuk: gelisah yang melanda, kemarahan atas sesuatu, perasaan lara, maupun ungkapan cinta, yang semuanya bisa tergambarkan dengan jelas.

Ungkapan perasaan si penulis dalam tulisan bentuk narasi seperti surat-menyurat, misalnya, tergambar jelas dalam Confesiones St Agustinus, yang di dalamnya terdapat penuturan tentang hubungan dengan kekasih gelapnya selama 12 tahun. Hubungan gelap tersebut harus berakhir, St Agustinus lebih memilih agama Kristen atau jalan pengendalian diri, yang menuntut pertobatan total atas segala dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu.

Perempuan tak bernama, yang oleh St Agustinus disebut Ibu dari Adeodatus, adalah celah kecil yang bisa melebar menjadi sebuah lubang. Penjelasan yang tidak begitu detil ikhwal sosok perempuan tersebut bisa jadi dimanfaatkan oleh seorang yang sangat memahami filsafat Yunani, teologi Kristen, dan sejarah Gereja (bisa jadi orang itu adalah Jostein Gaarder sendiri), entah untuk tujuan apa sehingga bisa menggubah Codex Floriae dengan bahasa dan tema yang benar-benar menyentuh, membuat kita tercenung, merenungkan kembali tentang makna kasih sejati, iman, takdir, tanggung jawab dan sosok Tuhan itu sendiri.

Itu dugaan yang mungkin, seandainya naskah itu betul-betul tidak dikarang oleh Floria, artinya ada orang lain yang memakai tangan Floria untuk menuliskan sisi yang tak terungkapkan dari kehidupan St Agustinus. Namun, jika naskah ini asli, kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk membuktikan autentisitasnya. Pertama, untuk penelusuran naskah adalah hal yang tak mungkin, ada mata rantai yang terputus. Si penjual naskah dan buku kuno, di mana Gaarder mendapatkan Codex Floriae, sudah tak ingat lagi dari siapa ia mendapatkannya. Kedua, penelaahan menyangkut isi dari naskah, Gaarder melihatnya dari segi bahasa yang digunakan. Ia berkeyakinan bahwa sintaks dan kosakata yang dipakai betul-betul sudah lama sekali, tidak mungkin berasal dari abad ke-16 dan dikarang di Argentina. Ketiga, dari penelusuran fakta sejarah. Artinya, harus ada kesesuaian antara kisah hidup St Agustinus dan peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam naskah tersebut. Ini yang dilakukan oleh St Sunardi dalam kata pengantar di buku ini. Patut kita ucapkan terima kasih kepada Penerbit Jalasutra, yang telah meminta St. Sunardi, yang memang paham betul mengenai sejarah dan pemikiran St Agustinus, untuk menyusun sebuah pengantar yang faktual. Setelah membeberkan fakta-fakta sejarah St Agustinus, sampai akhirnya St. Sunardi berkesimpulan: ”Jadi tidak mustahil bahwa naskah Floria ini asli.”

# # #

Terlepas dari bagaimana dan seperti apa naskah ini dibuat atau jika kita melihat secara obyektif terhadap isi teksnya akan kita temukan perspektif yang cukup menggugah tentang bagaimana kita memandang St Agustinus dan juga ajaran Kristen. Dalam sebuah karyanya Fihi Ma Fihi, Maulana Rumi bertutur liris, ”….Jalan Nabi Isa adalah perjuangan menahan diri dalam sunyi dan menjauhi godaan hasrat berahi…” Kisah hidup St Agustinus dalam Confessiones dan dilengkapi dengan surat Floria, setidaknya memberikan gambaran betapa kerasnya perjuangan batin Sang Santo dalam menempuh jalan pengendalian diri ini.

Sedangkan dari telaah teologis, surat-surat Floria menggambarkan adanya perbedaan yang berlawanan antara dirinya dan St Agustinus dalam memandang Tuhan, agama, kehidupan dan hubungan lawan jenis. Floria mewakili paganisme di masa itu, yakni tradisi yang diwariskan dari Yunani-Romawi, sedangkan St Agustinus setelah bertobat, mewakili jalan Isa atau jalan pengendalian diri. Perbedaan pertama menyangkut hubungan di antara keduanya. Bagi Floria hubungan cinta antara St Agustinus dan dirinya dilandasi sebuah cinta ilahiah, tidak hanya berdasar hasrat raga semata, sedangkan bagi St Agustinus jelas sekali bahwa kehidupan masa lalu dengan kekasih gelapnya adalah kubangan penuh lumpur dosa yang harus dijauhi.

Kedua, dalam hal memandang Tuhan. Bagi Floria gambaran tentang Tuhan adalah Dia yang tidak menuntut korban – jelas ia menganggap dirinya sebagai korban dari tindakan St Agustinus, sedangkan bagi St Agustinus seperti yang dicontohkan Nabi Isa dan para rasulnya, Tuhan menuntut pengorbanan diri kita secara total. Ketiga adalah dalam cara memandang kehidupan, keduanya menyadari betul akan betapa singkatnya hidup ini. Karena itu, harus dengan yang paling bermakna. Bagi Floria, kebermaknaan hidupnya terjadi manakala ia bisa bersama kekasihnya dalam kehidupan dunia ini. Namun, lain lagi bagi St Agustinus, kehidupan singkat dan fana ini harus ditukar dengan sesuatu yang lebih berharga, yakni kehidupan surga yang kekal kelak di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.