BUNGA

September 11, 2008 oleh agustinuscp

Bunga adalah cara-Mu tersenyum,

Matahari tidak lain dari pelukan hangat,

Bintang hanyalah cara-Mu menjaga kami sepanjang malam,

Dan sahabat, ia adalah cara-Mu hadir nyata dalam kehidupan.

 

(Gede Prama, Jalan-Jalan Penuh Keindahan)

L.O.V.E

Juni 27, 2009 oleh agustinuscp

Love is not finding the right person, but creating a right relationship..

It’s not about how much love you have in the beginning, but how much love you build till the end..

Segmentasi Posisi Keuangan Pribadi

Desember 31, 2008 oleh agustinuscp

 

bruce20lee2Segmentasi Posisi Keuangan Pribadi

Oleh: Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan.

Anda tentu sering mendengar berbagai lembaga bisnis menggunakan istilah segmentasi. Mulai dari segmentasi pasar berdasarkan demografi, berdasarkan geografi, dan atau pendekatan lain.

Inti dari semua itu adalah agar lembaga bisnis bisa lebih mudah memilah-milah target pasar. Misalnya, segmen orang dewasa dibedakan dari segmen remaja. Atau pasar di daerah Kalimantan tentu tidak sama perilakunya dengan pasar di Sumatera dan sebagainya.

Lantas, apa hubungan segmentasi bisnis itu dengan keuangan pribadi? Hubungan langsung tidak ada, tetapi dalam bisnis jika salah menyegmentasikan pasar dan produk, maka kerap hanya menghasilkan kegagalan.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada segmentasi keuangan pribadi. Apa maksudnya? Begini. Kita semua tentu memahami masyarakat hidup dengan berbagai gaya hidup. Ada istilah jet set society, ada pula kalangan yang hidupnya penuh hura-hura. Tragisnya, meski kesukaan sama, belum tentu semua penggemar pola hidup semacam itu memiliki kondisi keuangan yang sama.

Tidak heran bila kemudian kita mendengar istilah “lebih besar pasak daripada tiang”, atau malah hidupnya selalu terjerat utang. Dengan kata lain, hidup dalam kenikmatan semu sesaat tatkala berada di lingkungan tersebut, tetapi sehari-harinya penuh dengan masalah keuangan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk lebih dahulu memahami sebenarnya Anda berada di segmen keuangan pribadi yang mana agar tidak terjerat dalam berbagai masalah keuangan yang Anda buat sendiri.

Untuk melihat segmentasi keuangan ini sebenarnya relatif mudah. Saat ini ada beberapa metode dalam mengklasifikasikan kelompok masyarakat. Mungkin Anda pernah mendengar istilah kelompok A, B, C di masyarakat. Atau yang lebih mudah, terkadang ada survei yang mengajukan pertanyaan berapa pendapatan Anda. Misalnya, apakah pendapatan Anda antara Rp 1 juta-Rp 5 juta per bulan, Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan, Rp 10-Rp 20 juta per bulan, atau di atas Rp 20 juta per bulan.

Jika Pendapatan anda di atas Rp 20 juta per bulan, maka Anda tergolong kelompok A. Demikian seterusnya. Lantas, apa dampaknya? Jika Anda mengajukan aplikasi kartu kredit, dengan pendapatan di atas Rp 20 juta per bulan, maka Anda berpeluang memperoleh kartu emas. Atau malah kartu platinum jika pendapatan Anda jauh di atas Rp 20 juta per bulan. Nah, dengan pengelompokan seperti itu, otomatis Anda bisa mendapatkan indikasi Anda berada di segmen yang mana di kalangan masyarakat.

Lantas apa korelasinya? Sederhana sekali. Jika pendapatan Anda di bawah Rp 5 juta per bulan tentu kurang pas jika ikut serta dalam gaya hidup yang pendapatannya di atas Rp 20 juta per bulan. Tentu bukan berarti Anda tidak boleh bergaul dengan mereka, tetapi dalam hal ini penekannya adalah pada perilaku konsumsi Anda.

Dengan kata lain, jika Anda berperilaku konsumsi yang sama dengan kalangan yang berpendapatan di atas Rp 20 juta per bulan, maka yang akan menuai masalah adalah Anda sendiri. Itu intinya.

 

Bukan Lebih Miskin

 

Kendati demikian, bukan berarti Anda lebih “miskin” ketimbang mereka yang berpendapatan di atas Rp 20 juta per bulan. Dalam definisi keuangan, kemapanan seseorang sebenarnya tidak selalu berbanding lurus dengan penghasilan, tetapi dilihat secara persentase berapa besar selisih positif antara pendapatan dan pengeluaran.

Jadi sepanjang Anda tidak mengalami masalah dengan kondisi “kekurangan uang”, maka sebenarnya Anda tergolong mapan. Dengan kata lain, kendati mobil Anda bukan Jaguar atau Mercedez Benz keluaran terbaru dan rumah Anda tidak seluas lapangan sepak bola, tetapi jika Anda tidak pernah stres karena utang, maka Anda berada dalam golongan yang mapan secara keuangan.

Oleh karena itu, terlepas Anda berada di segmen mana dalam konteks penghasilan, sebenarnya bukan berarti yang pendapatannya di atas Rp 20 juta per bulan otomatis lebih mapan daripada orang-orang yang pendapatannya di bawah Rp 5 juta per bulan.

Contoh konkretnya, jika kalangan berpendapatan Rp 20 juta per bulan membelanjakan uang sebesar Rp 18 juta per bulan, berarti konsumsinya mencapai 90 persen dari pendapatan. Di sisi lain, kalangan yang berpendapatan Rp 5 juta per bulan mungkin hanya menghabiskan Rp 3 juta per bulan untuk konsumsi atau sebesar 60 persen saja. Berarti yang pendapatannya Rp 5 juta per bulan malah lebih mapan meskipun bersifat relatif.

Lantas, apa langkah selanjutnya yang mesti dilakukan setelah Anda mengetahui segmentasi keuangan Anda dan bahkan tingkat “kemapanan” Anda dilihat dari perbandingan pendapatan vs pengeluaran secara persentase? Apakah persoalan sudah selesai? Jelas tidak.

Segmentasi keuangan baru merupakan dasar untuk merancang perencanaan keuangan yang lebih baik guna mencapai tujuan keuangan Anda. Seperti contoh di atas, umpamakan pendapatan Anda di bawah Rp 5 juta per bulan dan jika dilihat secara persentase pengeluaran dibanding pendapatan kondisi keuangan Anda cukup baik. Apakah Anda cukup puas dengan kondisi itu?

Tidak ada salahnya Anda berupaya meningkatkan penghasilan Anda. Salah satu caranya dengan investasi.

Lalu, investasi apa yang cocok untuk orang-orang dengan pendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan? Inilah pertanyaan yang penting untuk dikorelasikan dengan paparan di atas menyangkut gaya hidup.

Boleh jadi kalangan berpendapatan diatas Rp 20 juta per bulan senang main saham. Sebaiknya Anda jangan ikut-ikutan, sebab karakter setiap orang berbeda-beda. Dengan demikian, Anda mesti mencari jenis investasi yang cocok dengan karakter Anda dan kondisi keuangan Anda.

Yang paling masuk akal adalah investasi yang risikonya lebih rendah dibandingkan saham, misalnya reksa dana. Selain relatif berisiko lebih rendah, investasinya juga bisa dilakukan dalam jumlah tidak terlalu besar. Selamat mencoba.

 

Melukis Yang Manis

Oktober 18, 2008 oleh agustinuscp

Melukis Yang Manis

 

Di pinggir danau duduk seorang pelukis

Melukis, melukis dan melukis

Sandra Dewi

Sandra Dewi

Ketika ditanya apa yang dilukis

 

 

 

 

Ia menyebut seorang gadis manis

 

Berambut selebat hutan tua

Tersenyum manis seperti bunga kamboja

Tatapannya menyerupai bulan purnama

Kelembutannya meniru danau tua

 

Ketika ditanya siapa namanya

Ia hanya diam percuma

Hatinya menyebut nama yang tidak bernama

 

(Gede Prama, “Jalan-Jalan Penuh Keindahan)

Santo Agustinus

Mei 29, 2008 oleh agustinuscp

Santo Agustinus

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.(Ibrani 13:5)

   
 
 

Berontak tetapi Dicengkeram Tuhan

Pernahkah kamu merasa telah melakukan sesuatu yang jahat sehingga kamu berpikir bahwa Tuhan tidak mau mengampunimu? Baiklah, kalau saja kamu tahu kehidupan St. Agustinus kamu akan menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh kamu berontak dan menyimpang dari Tuhan, Ia pasti akan membawamu kembali.

Agustinus dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya ialah St. Monika, seorang Kristen yang saleh. St. Monika mendidik ketiga putera-puterinya dalam iman Kristen. Namun demikian, menginjak dewasa Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Pernah suatu ketika ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok “7 Penantang Tagaste” mencuri buah-buah pir yang siap dipanen milik Pak Tallus, seorang petani miskin, untuk dilemparkan kepada babi-babi. Pada umur 29 tahun Agustinus dan Alypius, sahabatnya, pergi ke Italia. Agustinus menjadi mahaguru terkenal di Milan. Sementara itu, hatinya merasa gelisah. Sama seperti kebanyakan dari kita di jaman sekarang, ia mencari-cari sesuatu dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Sembilan tahun lamanya Agustinus menganut aliran Manikisme, yaitu bidaah yang menolak Allah dan mengutamakan rasionalisme. Tetapi tanpa kehadiran Tuhan dalam hidupnya, jiwanya itu tetap kosong. Semua buku-buku ilmu pengetahuan telah dibacanya, tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.

Sejak awal tak bosan-bosannya ibunya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci di mana dapat ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada dalam ilmu pengetahuan. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikit pun. Pada usia 31 tahun Agustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat doa-doa ibunya serta berkat ajaran St. Ambrosius, Uskup kota Milan. Namun demikian ia belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap hidupnya. Suatu hari, ia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat setelah membaca riwayat hidup St. Antonius Pertapa. Agustinus merasa malu. “Apa ini yang kita lakukan?” teriaknya kepada Alypius. “Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!” Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, “Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?” Sekonyong-konyong ia mendengar seorang anak menyanyi, “Ambillah dan bacalah!” Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat, “Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:13-14).

Ini dia! Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.
Pada tanggal 24 April 387 Agustinus dipermandikan oleh Uskup Ambrosius. Ia memutuskan untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan dengan beberapa teman dan saudara hidup bersama dalam doa dan meditasi. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Agustinus tiba kembali di Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin papa. Ia sendiri mendirikan sebuah komunitas religius. Atas desakan Uskup Valerius dan umat, maka Agustinus bersedia menjadi imam. Empat tahun kemudian Agutinus diangkat menjadi Uskup kota Hippo.

Semasa hidupnya Agustinus adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Banyak orang tak percaya kembali ke gereja Katolik sementara orang-orang Katolik semakin diperteguh imannya. Agustinus menulis surat-surat, khotbah-khotbah serta buku-buku dan mendirikan biara di Hippo untuk mendidik biarawan-biarawan agar dapat mewartakan injil ke daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri. Gereja Katolik di Afrika mulai tumbuh dan berkembang pesat. Di dinding kamarnya, terdapat kalimat berikut yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar: “Di sini kami tidak membicarakan yang buruk tentang siapa pun” .”Terlambat aku mencintai-Mu, Tuhan,” serunya kepada Tuhan suatu ketika. Agustinus menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Tuhan dan membawa orang-orang lain untuk juga mencintai-Nya.

Agustinus wafat pada tanggal 18 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun. Makamnya terletak di Basilik Santo Petrus. Kumpulan surat, khotbah serta tulisan-tulisannya adalah warisan Gereja yang amat berharga. Di antara ratusan buku karangannya, yang paling terkenal ialah “Pengakuan-Pengakuan” (di Indonesia diterbitkan bersama oleh Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia) dan “Negara Tuhan”. Santo Agustinus dikenang sebagai Uskup dan Pujangga Gereja serta dijadikan Santo pelindung para seminaris (calon imam). Pestanya dirayakan setiap tanggal 28 Agustus.

Jadi tidak peduli berapa jauh kamu menyimpang dari Tuhan, Ia selalu siap untuk membawamu kembali. Sama seperti Agustinus, seorang kafir yang dipanggil menjadi seorang Uskup, kamu pun juga dapat bertumbuh dalam kasih dan kuasa Tuhan.
Iman sejati sungguh sangat indah.

4E+1P

April 22, 2008 oleh agustinuscp

DICARI: TUKANG KEBUN (Pemimpin)

 

Jack Welch, mantan CEO legendaris GE, punya definisi sederhana tentang pemimpin.  Menurut salah satu Century’s Best CEO yang langganan meraih penghargaan sebagai CEO terbaik dari berbagai media bisnis internasional ini, pemimpin adalah seorang tukang kebun.  Tugasnya: membawa pupuk di tangan kanan, dan air di tangan kiri.  Ia memberi pupuk dan menyirami tanaman agar subur, serta menyiangi rumput dan gulma yang bisa menganggu pertumbuhan bibit unggul yang ditanam di ladangnya.

Secara berkala, ia juga mengecek pertumbuhan tanamannya.  Jika pucuk muda tak kunjung trubus dan tanaman tetap kuntet meski cukup diberi pupuk dan air, ia perlu menggantinya dengan bibit lain sehingga ladangnya bisa menghasilkan dengan baik.  Dengan rendah hati, Jack mengaku tugasnya sangat sederhana.  “Karena saya bukan orang pintar, tugas saya adalah mencari dan memilih orang-orang yang pintar dan professional,” katanya.

 

4E + 1P

 

Apa itu 4E+1P?

4E+1P merupakan konsep perilaku kepemimpinan yang diadopsi dari perusahaan General Electric (GE).  GE merupakan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alva Edison (penemu bola lampu).  Pada masa pimpinan sang CEO, Jack Welch, GE menjadi perusahaan yang paling berharga di dunia.

 

Yang membuat General Electric berbeda adalah satu budaya yang memanfaatkan perbedaan sebagai satu kesempatan belajar yang tidak terbatas, satu rumah ide yang makanan dan kelezatannya tak ada taranya di dunia bisnis.  Inti dari budaya belajar adalah pemahaman bahwa kemampuan organisasi untuk belajar dan segera menerapkan apa yang dipelajari ke dalam tindakan, merupakan daya saing bisnis. (Jack Welch)

 

Energy:

  1. Kepemimpinan yang memberi teladan
  2. Penekanan pada pentingnya kepuasan pelanggan
  3. Menggunakan bahasa lisan, tulisan dan tindakan nyata untuk mengilhami orang lain agar berprestasi
  4. Menginisiatifkan suatu perubahan
  5. Menentang status quo
  6. Membagikan informasi ke seluruh bagian
  7. Terbuka dan ramah terhadap orang lain

Energize:

  1. Mendorong orang lain untuk memberikan kontribusi yang lebih
  2. Memberikan wewenang kepada anggota tim untuk memilih cara terbaik dalam melakukan pekerjaan mereka sendiri
  3. Menghargai kontribusi tim
  4. Mendengar secara efektif dan ajukan pertanyaan untuk memahami pikiran orang lain
  5. Mendorong perdebatan di antara anggota tim
  6. Memberikan arahan yang jelas pada tim
  7. Menolong anggota tim belajar dari kesalahan

Edge:

  1. Menunjukkan standar perilaku yang tinggi dalam semua transaksi bisnis
  2. Bertanggung jawab atas kesalahan sendiri dan menjadikannya sebagai suatu pelajaran praktis
  3. Menunjukkan masalah kinerja berdasarkan laporan / anggota tim
  4. Dapat membuat keputusan yang tepat saat minim informasi
  5. Memutuskan secara efektif dengan alternatif yang kompleks, membingungkan dan bertentangan
  6. Dapat dengan cepat menyaring informasi yang relevan dari informasi yang tidak relevan
  7. Dapat mengungkapkan pendapat sendiri dengan jelas
  8. Menghadapi konflik secara konstruktif

Execute:

  1. Membuat & memenuhi komitmen yang agresif
  2. Memilih anggota-anggota tim pelaksana yang memiliki bakat dan talenta yang tinggi
  3. Mengalokasikan sumber daya (orang, material, waktu & anggaran) dengan tepat
  4. Mengubah rencana jika situasi membutuhkannya
  5. Dengan senang hati menerima umpan balik dari kinerja sendiri
  6. Memberikan umpan balik untuk meningkatkan kinerja anggota tim
  7. Melatih secara efektif untuk meningkatkan kinerja anggota tim
  8. Mendorong peningkatan kualitas dengan mengimplementasikan cara baru yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu

Passion:

  1. Memiliki keinginan kuat untuk berhasil
  2. Memandang perubahan sebagai suatu kesempatan dan keberhasilan pelaksanaan rencana tindakan
  3. Dapat bertahan dan belajar pada masa-masa sulit
  4. Membimbing tim dalam mengarahkan bisnis pada kondisi krisis
  5. Selalu mendorong orang lain untuk memiliki proses yang cepat, sederhana dan efektif

 

Yang kita cari untuk GE saat ini adalah pemimpin di setiap level yang dapat membangkitkan energi karyawan, menciptakan antusiasme karyawan, bukan pemimpin yang melemahkan semangat karyawan, dan mengendalikan karyawan.  Orang yang kita perlukan dalam perusahaan ini adalah mereka yang tidak mau menghabiskan waktu untuk birokrasi; atau tidak menggerutu terhadap penguasa yang diktator selama bertahun-tahun; orang yang sebelum mendapatkan kesempatan untuk mengambil keputusan,  mencoba sesuatu yang baru dan mendapatkan kepuasan batin dan kepuasan dalam hal keuangan. (Jack Welch) 

Angsa dan Telur Emas

April 2, 2008 oleh agustinuscp

good.jpgAngsa dan Telur Emas(Stephen Covey) 

Fabel ini berkisah tentang seorang petani miskin yang pada suatu hari menemukan sebutir telur emas yang berkilau di sarang angsa peliharaannya.  Pada mulanya ia berpikir ini pasti semacam tipuan.  Tetapi ketika ia akan membuangnya, ia berpikir-pikir lagi dan membawanya pulang untuk memeriksanya.

Telur itu ternyata emas murni! Si petani tidak dapat percaya akan keberuntungannya.  Ia menjadi semakin tidak percaya ketika pada hari berikutnya pengalaman tersebut berulang kembali.  Hari demi hari, ia bangun dan bergegas menuju sarang dan menemukan satu lagi telur emas.  Ia menjadi sangat kaya; semua ini kelihatannya seperti sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan.

Namun sewaktu ia bertambah kaya timbul pula sifat tamak dan tidak sabar.  Tidak sabar menunggu hari demi hari untuk mendapatkan telur emas tersebut, akhirnya si petani memutuskan untuk membunuh angsa itu dan meraup semua telur emas itu sekaligus.  Tetapi, ketika ia membuka perut angsa tersebut, ternyata kosong.  Tidak ada telur emas – dan sekarang tidak ada cara untuk mendapatkan telur emas itu lagi.  Si petani telah menghancurkan angsa yang menghasilkan telur-telur tersebut.

Dalam fabel ini terlihat suatu hukum alam, suatu prinsip – definisi dasar dari efektivitas.  Kebanyakan orang melihat efektivitas pada paradigma telur emas: semakin banyak anda menghasilkan, semakin banyak anda bekerja, semakin efektif anda jadinya.

Namun demikian fabel ini memperlihatkan bahwa efektivitas yang sebenarnya adalah fungsi dari dua hal: apa yang dihasilkan atau diproduksi (telur emas) dan aset yang menghasilkannya atau kapasitas produksi  (angsa).

Jika anda menggunakan pola kehidupan yang berfokus pada telur emas dan mengabaikan angsanya, anda segera akan kehilangan aset yang menghasilkan telur emas.  Sebaliknya, jika anda hanya mengurus angsanya tanpa memperhatikan telur emasnya, anda tidak akan memiliki persediaan yang diperlukan untuk memberi makan diri anda atau angsa anda sendiri.

Efektivitas terletak dalam keseimbangan – apa yang saya sebut Keseimbangan P/KP. P singkatan dari produksi hasil yang diinginkan, yaitu telur emas.  KP singkatan dari kemampuan produksi, kemampuan atau aset untuk menghasilkan telur emas.

Beberapa tahun yang lalu, saya membeli sebuah aset fisik – sebuah mesin pemotong rumput.  Saya menggunakannya berulang-ulang tanpa berbuat apapun untuk memeliharanya.  Mesin itu bekerja baik selama dua musim, tetapi kemudian mulai rusak.  Ketika saya mencoba menghidupkannya dengan servis dan mengasahnya, saya mendapatkan mesin itu sudah kehilangan lebih dari setengah kemampuan aslinya.  Mesin itu pada dasarnya sudah tidak berguna.

 

Bila orang lalai menaruh perhatian pada Keseimbangan Produksi / Kemampuan Produksi dalam pemakaian aset fisik pada organisasi, mereka menurunkan efektivitas organisasi dan seringkali akhirnya menyerahkan kepada orang lain seekor angsa yang sekarat.

Misalnya, seseorang bertanggung jawab atas aset fisik, contohnya mesin, mungkin ingin menimbulkan kesan yang baik pada atasannya.  Barangkali saat itu perusahaan sedang berada dalam tahap pertumbuhan yang pesat dan promosi dilakukan dengan cepat.  Ia pun berproduksi pada tingkat yang optimum – tidak ada masa surut, tidak ada pemeliharaan.  Ia menjalankan mesin siang dan malam.  Produksinya fenomenal, biaya turun dan laba membumbung.  Dalam waktu singkat, ia dipromosikan.  Telur emas!

Namun, andaikan saja anda menjadi penerus pekerjaan tadi.  Anda mewarisi seekor angsa yang amat sakit, sebuah mesin yang sekarang ini berkarat dan mulai macet.  Anda harus banyak menginvestasi untuk masa surut dan pemeliharaan.  Biaya melonjak tinggi; laba turun drastis.  Dan siapa yang disalahkan untuk hilangnya telur emas tersebut?  Anda.  Pendahulu anda melikuidasi asetnya, tetapi sistem akunting hanya melaporkan produksi, biaya dan laba per unit.

 

KISS

April 2, 2008 oleh agustinuscp

sandra-dewi2.jpg

KISS (Keep It Simple Stupid)


Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi.
Tetapi, saat menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.

Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini :

1. Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang.
Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong.
Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman.

Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.

Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.

Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan.
Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.

2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karenatinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.
Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar.

Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ?
Mereka menggunakan pensil !

***
Smiley :
Filosofi KISS ( Keep It Simple Stupid ), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.

Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa.
Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya.

Hidup itu Singkat

Maret 12, 2008 oleh agustinuscp

Apa jadinya jika salah seorang peletak dasar teologi sebuah agama menjadi seorang tergugat? Santo Agustinus dalam agama Kristen adalah seperti Alghazali bagi kaum Muslim. Ada satu kesamaan dalam diri masing-masing, yakni sama-sama membuat risalah mengenai perjalanan dirinya, pencarian batinnya, dalam upaya meraih apa yang disebut tujuan final bagi para pemeluk agama. Agustinus menggubah Confessiones (Pengakuan) dan Alghazali mengarang Munqidz Minadholal (Penyelamat dari Kesesatan).

Coba bayangkan, jika seorang sekaliber St Agustinus, yang dalam pengakuan jujur dirinya termuat dalam Confessiones dengan narasi teologis yang indah, tiba-tiba terkuakkan sepenggal kisah yang selama ini tak pernah tercatat dalam sejarah. Pertama orang akan bertanya tentang kebenaran dari penggalan cerita tadi. Reaksi kemudian, tentu saja setiap orang akan mempunyai sudut pandang tersendiri tentang kisah tersebut, mempunyai penafsiran masing-masing.

Adalah Floria, si penggugat itu, yang mengaku sebagai bekas kekasih sang Santo, dan menggubah surat-surat yang diperuntukkan bagi mantan kekasihnya. Boleh dikatakan ia membuat pengakuan balik atau gugatan balik atas Pengakuan St Agustinus. Ia ingin didengarkan oleh gereja, seperti halnya Pengakuan St Agustinus yang juga dihargai oleh umat Kristiani. Jostein Gaarder, si penemu Codex Floriae, surat-surat mantan kekasih St Agustinus ini, adalah seorang pengarang yang tak asing bagi khalayak pembaca sastra dan filsafat. Dunia Sophie (Sophie’s World) merupakan salah satu karya besarnya untuk genre sastra-filsafat, yang diperuntukkan bagi para pemula, terutama remaja.

Di pertengahan musim semi tahun 1995, demikian Gaarder menceritakan asal mula penemuan naskah tua ini, saat pameran buku di Buones Aires, ia mengunjungi pasar loak di San Telmo. Di sebuah toko yang menjual buku-buku dan naskah kuno, ia menemukan gulungan surat berkertas merah yang bertuliskan aksara latin: Floria Aemelia Aurelio Augustino Episcopo Hipponensi Salutem. Salam dari Floria Aemelia kepada Aurelius Agustinus, Uskup Hippo. Dari benak Gaarder lantas berdatangan aneka pertanyaan yang membuatnya makin penasaran, apakah yang dimaksud penulis surat adalah Santo Agustinus, Sang Bapak Gereja yang hidup di sekitar abad ke-4 M. Rasa penasarannya tak bisa ditekan dan membuatnya harus bertaruh: ia rela mengeluarkan hampir 12.000 dollar AS demi mendapatkan naskah tua itu.

Setelah menelitinya, Jostein Gaarder berkeyakinan bahwa naskah ini memang asli. Mungkin merupakan salinan dari naskah yang lebih tua dan salinan yang dipegangnya dipastikan berasal dari abad ke-16. Ia kemudian mulai mencoba menerjemahkan surat-surat tersebut. Rasa kagum atas pilihan kata yang indah dari rangkaian tulisan tangan Codex Floriae, dicampur argumentasi teologis dan tuntutan dari seorang perempuan, semakin membuat Gaarder tak bisa menahan diri untuk berbagi dengan khalayak pembaca. Setahun kemudian, Codex Floriae diterbitkan dalam bahasa Norwegia, walaupun untuk judul, Gaarder tetap mengambil kalimat dalam bahasa Latin, yang sering dituliskan berulang kali oleh Floria: Vita Brevis, hidup itu singkat.

# # #

Mungkin ada benarnya ungkapan seorang sastrawan Romania, EM Cioran: ”Aku lebih menyukai surat-surat Nietzsche daripada membaca karya filsafatnya, ada kejujuran terdapat di sana, daripada buku filsafat yang canggih”. Memang dalam penulisan yang serius, penalaran kita yang sistematislah yang lebih berperan. Atau bisa jadi kita memilih kata yang canggih dengan banyak kelokan dan dimaksudkan sebagai daya pikat yang membungkus argumentasi – yang bisa jadi sebenarnya sederhana – dalam sebuah tulisan serius seperti halnya filsafat. Berbeda dengan tulisan filosofis, tulisan dalam bentuk surat menyurat lebih menuturkan perasaan yang berkecamuk: gelisah yang melanda, kemarahan atas sesuatu, perasaan lara, maupun ungkapan cinta, yang semuanya bisa tergambarkan dengan jelas.

Ungkapan perasaan si penulis dalam tulisan bentuk narasi seperti surat-menyurat, misalnya, tergambar jelas dalam Confesiones St Agustinus, yang di dalamnya terdapat penuturan tentang hubungan dengan kekasih gelapnya selama 12 tahun. Hubungan gelap tersebut harus berakhir, St Agustinus lebih memilih agama Kristen atau jalan pengendalian diri, yang menuntut pertobatan total atas segala dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu.

Perempuan tak bernama, yang oleh St Agustinus disebut Ibu dari Adeodatus, adalah celah kecil yang bisa melebar menjadi sebuah lubang. Penjelasan yang tidak begitu detil ikhwal sosok perempuan tersebut bisa jadi dimanfaatkan oleh seorang yang sangat memahami filsafat Yunani, teologi Kristen, dan sejarah Gereja (bisa jadi orang itu adalah Jostein Gaarder sendiri), entah untuk tujuan apa sehingga bisa menggubah Codex Floriae dengan bahasa dan tema yang benar-benar menyentuh, membuat kita tercenung, merenungkan kembali tentang makna kasih sejati, iman, takdir, tanggung jawab dan sosok Tuhan itu sendiri.

Itu dugaan yang mungkin, seandainya naskah itu betul-betul tidak dikarang oleh Floria, artinya ada orang lain yang memakai tangan Floria untuk menuliskan sisi yang tak terungkapkan dari kehidupan St Agustinus. Namun, jika naskah ini asli, kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk membuktikan autentisitasnya. Pertama, untuk penelusuran naskah adalah hal yang tak mungkin, ada mata rantai yang terputus. Si penjual naskah dan buku kuno, di mana Gaarder mendapatkan Codex Floriae, sudah tak ingat lagi dari siapa ia mendapatkannya. Kedua, penelaahan menyangkut isi dari naskah, Gaarder melihatnya dari segi bahasa yang digunakan. Ia berkeyakinan bahwa sintaks dan kosakata yang dipakai betul-betul sudah lama sekali, tidak mungkin berasal dari abad ke-16 dan dikarang di Argentina. Ketiga, dari penelusuran fakta sejarah. Artinya, harus ada kesesuaian antara kisah hidup St Agustinus dan peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam naskah tersebut. Ini yang dilakukan oleh St Sunardi dalam kata pengantar di buku ini. Patut kita ucapkan terima kasih kepada Penerbit Jalasutra, yang telah meminta St. Sunardi, yang memang paham betul mengenai sejarah dan pemikiran St Agustinus, untuk menyusun sebuah pengantar yang faktual. Setelah membeberkan fakta-fakta sejarah St Agustinus, sampai akhirnya St. Sunardi berkesimpulan: ”Jadi tidak mustahil bahwa naskah Floria ini asli.”

# # #

Terlepas dari bagaimana dan seperti apa naskah ini dibuat atau jika kita melihat secara obyektif terhadap isi teksnya akan kita temukan perspektif yang cukup menggugah tentang bagaimana kita memandang St Agustinus dan juga ajaran Kristen. Dalam sebuah karyanya Fihi Ma Fihi, Maulana Rumi bertutur liris, ”….Jalan Nabi Isa adalah perjuangan menahan diri dalam sunyi dan menjauhi godaan hasrat berahi…” Kisah hidup St Agustinus dalam Confessiones dan dilengkapi dengan surat Floria, setidaknya memberikan gambaran betapa kerasnya perjuangan batin Sang Santo dalam menempuh jalan pengendalian diri ini.

Sedangkan dari telaah teologis, surat-surat Floria menggambarkan adanya perbedaan yang berlawanan antara dirinya dan St Agustinus dalam memandang Tuhan, agama, kehidupan dan hubungan lawan jenis. Floria mewakili paganisme di masa itu, yakni tradisi yang diwariskan dari Yunani-Romawi, sedangkan St Agustinus setelah bertobat, mewakili jalan Isa atau jalan pengendalian diri. Perbedaan pertama menyangkut hubungan di antara keduanya. Bagi Floria hubungan cinta antara St Agustinus dan dirinya dilandasi sebuah cinta ilahiah, tidak hanya berdasar hasrat raga semata, sedangkan bagi St Agustinus jelas sekali bahwa kehidupan masa lalu dengan kekasih gelapnya adalah kubangan penuh lumpur dosa yang harus dijauhi.

Kedua, dalam hal memandang Tuhan. Bagi Floria gambaran tentang Tuhan adalah Dia yang tidak menuntut korban – jelas ia menganggap dirinya sebagai korban dari tindakan St Agustinus, sedangkan bagi St Agustinus seperti yang dicontohkan Nabi Isa dan para rasulnya, Tuhan menuntut pengorbanan diri kita secara total. Ketiga adalah dalam cara memandang kehidupan, keduanya menyadari betul akan betapa singkatnya hidup ini. Karena itu, harus dengan yang paling bermakna. Bagi Floria, kebermaknaan hidupnya terjadi manakala ia bisa bersama kekasihnya dalam kehidupan dunia ini. Namun, lain lagi bagi St Agustinus, kehidupan singkat dan fana ini harus ditukar dengan sesuatu yang lebih berharga, yakni kehidupan surga yang kekal kelak di kemudian hari.

Memaafkan Musuh, Membahagiakan Diri

Maret 9, 2008 oleh agustinuscp

2070577085_b2875d7158_m.jpgDalam kehidupan selalu saja ada teman, saudara, kerabat kita yang sekarang bermusuhan dengan kita. Padahal dulunya mereka berhubungan baik dengan kita. Karena di suatu saat, entah sebuah kejadian kecil atau sebuah pertengkaran, tiba-tiba mereka menjadi tidak berhubungan lagi. Menjauh dari kita. Menelpon tidak, berkirim sms tidak. Bahkan kalau ketemu di jalan, seolah-olah tidak kenal. Padahal dulunya kita berhubungan baik sekali.

Berikut ada tips dari saya yang bisa dipraktekkan. Sebuah usaha yang mungkin berguna bagi anda, kebahagiaan dan kesuksesan anda di masa mendatang.

Bila anda memiliki saudara, teman, kerabat yang dulunya baik, tapi karena sesuatu hal atau kejadian yang membuat kesalahan, bisa karena dia atau anda, lalu menjadi renggang hubungan. Bisa jadi hal itu karena kesalahpahaman, ketidakmengertian, kurangnya komunikasi sehingga dia tiba-tiba tidak mau bicara dengan kita.

Kalau memang kejadiannya seperti ini, cobalah diam sejenak dan bayangkanlah orang itu. Kenanglah kebaikan dia dulu. Saat-saat manis yang anda lakukan bersama. Ingatlah saat dia menolong anda dalam kesulitan. Atau hal-hal yang baik yang terjadi di antara anda. Lalu anda pikirkan bagaimana sampai terjadi putus hubungan. Saat anda tidak lagi bersahabat. Coba dipertimbangkan besarnya kesalahan, mungkin cuma kecil yang bisa dilupakan.

Telponlah dia. Telpon saja. Tidak usah susah-susah ketemu. Ketika telpon anda bilang, “Halo saya ini bla..bla.. Lama kita tidak ketemu ya. Maaf, saya cuma telpon sebentar saja. Dulu kita pernah bersahabat baik ya.. Ingat kita dulu sering jalan-jalan bersama. Mungkin karena satu dan lain hal di tahun 1978 atau apalah, kita menjadi tidak enakkan.”

Lalu kita lanjutkan, “Dan saat ini saya merasa tidak enak. Karena dulu kita bersahabat dengan baik, sekarang kita jadi tidak pernah bicara atau berhubungan lagi. Alangah baiknya suatu saat kita bisa bertemu, berbicara bahkan berjalan-jalan lagi. Segini saja ya. Dag.. dag..” Telpon kita tutup.

Saya percaya anda punya musuh di dalam hati anda. Anda juga punya ketidak-enakkan di dalam hati anda. Bila ini ada, cobalah cari, hubungi dia dan telpon saja. 10 atau bahkan 5 menit saja. Katakan kalau dia masih marah, tidak apa-apa. Yang penting kita sudah mengatakan apa yang ada dalam hati kita. Mungkin sekarang belum waktunya. Mungkin suatu saat nanti, kita bisa bersahabat lagi. Selesai, tutup teleponnya.

Kita lakukan itu. Tidak apa-apa. Tidak ada ruginya. Tetapi ini semua akan memperkaya khasanah kejiwaan kita untuk menjadi manusia yang lebih besar.

Ini semua adalah sebuah cara kita untuk memaafkan diri kita sendiri untuk memaafkan orang lain. Cara mendamaikan di dalam hati kita. Kalau kita bisa melakukan hal ini, siapapun yang salah dulu entah kita, saudara, teman, kerabat, apa yang akan terjadi ?

Kita menjadi manusia yang lebih besar, jiwa yang lebih besar dengan ketenangan yang lebih besar lagi. Lebih besar lagi bahagianya. Mengasah diri lebih peka mengenal orang lain. Dengan kebesaran dan ketenangan jiwa ini maka kita akan bisa berbisnis dengan lebih baik lagi. (Tanadi Santoso)